Kegiatan

Kirab Budaya Merti Desa Magersari Jaga Tradisi dan Perkuat Gotong Royong

MAGERSARI_Ratusan warga Desa Magersari, Kabupaten Kendal, memadati jalan-jalan desa untuk mengikuti kirab budaya dalam rangka Merti Desa dan Khaul ke-42 Mbah Wali Hasan Abu Hamid, Jumat (10/7). Tradisi yang rutin digelar setiap tahun itu menjadi simbol rasa syukur sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat. Kirab dimulai dari Masjid Al Muttaqin dan berakhir di kompleks Makam Mbah Wali Hasan Abu Hamid. Sepanjang perjalanan, peserta membawa tumpeng, aneka makanan, minuman, serta hasil bumi yang kemudian didoakan dan disantap bersama sebagai wujud kebersamaan warga. Suasana kirab semakin semarak dengan penampilan tokoh Punokawan dan berbagai kesenian tradisional. Salah satu prosesi yang menarik perhatian masyarakat adalah seorang tokoh yang berjalan paling depan sambil membawa sapu dan menyapu jalan yang dilalui rombongan. Kepala Desa Magersari, Muhyidin, menjelaskan prosesi tersebut bukan sekadar atraksi, melainkan memiliki makna mendalam. Menyapu jalan menjadi simbol membersihkan desa dari segala mara bahaya, perselisihan, dan berbagai hal buruk agar masyarakat senantiasa hidup dalam keadaan aman, rukun, dan sejahtera. "Merti Desa merupakan tradisi yang selalu kami laksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Kami berharap Desa Magersari terus diberikan keberkahan, masyarakatnya semakin kompak, dan pembangunan desa semakin maju," ujarnya.
Selain kirab budaya, rangkaian Merti Desa juga diisi dengan majelis zikir dan selawat bersama Al Khidmah, pengajian yang menghadirkan KH Dr. Sabilal Rosyad M.Si dari Pekalongan, serta santunan kepada 24 anak yatim piatu. Muhyidin menilai keberhasilan penyelenggaraan Merti Desa tidak lepas dari partisipasi seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda hingga anak-anak ikut terlibat dalam setiap rangkaian kegiatan sehingga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun tetap terjaga. Bagi warga, Merti Desa bukan hanya perayaan adat, tetapi juga ruang untuk memperkuat hubungan sosial. Tradisi makan bersama setelah doa menjadi simbol bahwa keberkahan dan hasil yang diperoleh masyarakat dinikmati secara bersama tanpa membedakan latar belakang. Melalui pelestarian Merti Desa, masyarakat Magersari berharap warisan budaya leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Tradisi tersebut dinilai tidak hanya menjaga identitas desa, tetapi juga menjadi media pendidikan bagi generasi muda tentang pentingnya gotong royong, persatuan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal.

Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul "Kirab Budaya Merti Desa Magersari Jaga Tradisi dan Perkuat Gotong Royong"
Baca selengkapnya di: https://www.ayosemarang.com/semarang-raya/7717359909/kirab-budaya-merti-desa-magersari-jaga-tradisi-dan-perkuat-gotong-royong

Share :