Kegiatan

KKN UIN Walisongo Petakan Potensi UMKM Magersari, Data Jadi Langkah Awal Penguatan Ekonomi Desa

 

Magersari_Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak dapat dilakukan tanpa data yang akurat. Berangkat dari kebutuhan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 190 memulai pendataan pelaku UMKM di Desa Magersari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, pada Senin (3/8/2026). Pendataan ini menjadi fondasi penyusunan program pemberdayaan ekonomi yang lebih tepat sasaran selama masa pengabdian.

Sejak pagi hari, mahasiswa mendatangi rumah-rumah pelaku usaha yang tersebar di sejumlah dusun. Mereka melakukan wawancara secara langsung untuk menghimpun informasi mengenai jenis usaha, lama usaha berjalan, kapasitas produksi, sistem pemasaran, legalitas usaha, hingga berbagai kendala yang dihadapi para pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya.

Pendataan dilakukan menggunakan formulir yang telah disusun berdasarkan hasil koordinasi dengan Pemerintah Desa Magersari. Selain memperoleh gambaran kondisi riil UMKM, mahasiswa juga berupaya mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan melalui program kerja KKN, seperti pendampingan legalitas usaha, pemasaran digital, desain kemasan produk, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi.

Ketua Posko 190 mengatakan program pendataan menjadi langkah pertama sebelum menentukan bentuk pendampingan yang akan diberikan kepada masyarakat.

"Kami tidak ingin langsung menawarkan program tanpa memahami kondisi pelaku usaha. Karena itu kami memilih memulai dari pendataan agar setiap kegiatan yang kami laksanakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis data menjadi penting agar program yang dijalankan tidak bersifat seremonial, tetapi mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi perkembangan UMKM di Desa Magersari.

Selama proses pendataan, mahasiswa menemukan beragam jenis usaha yang dikelola masyarakat, mulai dari usaha makanan olahan, perdagangan, kerajinan rumah tangga, hingga usaha jasa. Sebagian besar pelaku usaha telah menjalankan usahanya selama bertahun-tahun, namun masih menghadapi tantangan dalam memperluas pemasaran, mengurus legalitas usaha, dan memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan penjualan.

Salah seorang pelaku UMKM, Khadijah, mengaku senang karena usahanya menjadi bagian dari pendataan yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya, selama ini pelaku usaha membutuhkan pendampingan agar mampu bersaing di tengah perkembangan pasar yang semakin mengandalkan teknologi digital.

"Kami berharap tidak hanya didata, tetapi juga dibimbing bagaimana memasarkan produk secara lebih luas. Kalau ada pelatihan pemasaran digital atau pengurusan izin usaha tentu akan sangat membantu kami," ujarnya.

Mahasiswa menjelaskan bahwa hasil pendataan akan dianalisis untuk menentukan prioritas program selama masa KKN. Pelaku usaha yang belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) akan didorong mengikuti pendampingan legalitas usaha, sementara UMKM yang telah memiliki produk siap jual akan diarahkan pada penguatan pemasaran digital dan peningkatan kualitas kemasan.

Selain mendukung pelaksanaan program KKN, data tersebut juga akan diserahkan kepada Pemerintah Desa Magersari sebagai basis informasi yang dapat dimanfaatkan dalam perencanaan pembangunan ekonomi desa. Dengan adanya data yang lebih mutakhir, pemerintah desa diharapkan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi dan kebutuhan pelaku UMKM di wilayahnya.

Bagi mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo, pendataan bukan sekadar memenuhi target program kerja. Kegiatan tersebut menjadi bentuk komitmen untuk memastikan setiap program pemberdayaan lahir dari kebutuhan nyata masyarakat. Pendekatan berbasis data diharapkan mampu menghasilkan program yang lebih terarah, berkelanjutan, dan memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi Desa Magersari setelah masa KKN berakhir.

Share :